Namun demikian, Andri mengingatkan, tingginya aktivitas digital juga menghadirkan tantangan serius, seperti penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian hingga penipuan digital.
Karena itu, ia menilai literasi digital menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat saat ini. Literasi digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, memahami etika digital serta menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
“Generasi muda harus menjadi agen perubahan di ruang digital. Anak-anak muda yang melek digital harus mampu menjadi penyebar informasi positif, kreator konten edukatif, sekaligus benteng melawan hoaks,” ujarnya.








