Ia merinci setidaknya empat permasalahan utama terkait kesehatan reproduksi yang masih dihadapi Jawa Barat.
Pertama, masih terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Kedua, masih adanya praktik perkawinan anak. Ketiga, munculnya perilaku berisiko di kalangan remaja dan keempat, masih rendahnya literasi masyarakat tentang kesehatan reproduksi.
“Kalau perkawinan anak terjadi, maka organ reproduksinya kan belum matang. Nanti ke sananya aduh, masalahnya banyak — ada kehamilan, ada persalinan, perdarahan pada saat persalinan, dan lain sebagainya, dan ini nanti mendorong ke arah kematian ibu pada saat melahirkan,” paparnya.
Perkawinan anak turut berkontribusi terhadap risiko stunting. Bayi yang dilahirkan dari perkawinan anak, memiliki kemungkinan 40 persen lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dari pasangan yang sudah matang secara usia dan fisik.







