Ia bahkan mengusulkan agar layanan SIM keliling dapat hadir langsung di sekolah-sekolah untuk memudahkan siswa.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengendalian emosi saat berkendara, yang kerap menjadi faktor pemicu kecelakaan di jalan raya.
“Yang paling penting bukan kecepatan, tapi keselamatan. Dan itu dimulai dari kemampuan kita mengendalikan emosi saat di jalan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Farhan mendorong agar program serupa dapat diperluas ke sekolah lain di Kota Bandung dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk industri otomotif dan media.
Ia menyebut kolaborasi dengan PT Daya Adi Cipta Motor sebagai langkah positif yang perlu terus dikembangkan.
“Saya mendorong agar kegiatan ini bisa masuk ke sekolah-sekolah lain. SMAN 22 ini bisa jadi contoh bagaimana edukasi keselamatan berkendara dilakukan dengan baik,” ungkapnya.








