Karena itu, kemampuan berpikir kritis dinilai perlu berjalan beriringan dengan civility atau keadaban. Siswa bukan hanya dituntut mampu bernalar, tetapi juga menghargai orang lain, berkomunikasi dengan baik, memahami lingkungan dan bertindak secara bertanggung jawab.
Kurikulum Perlu Memberi Ruang bagi Konteks Lokal
FIAD turut menyoroti persoalan kurikulum yang dinilai perlu memberikan ruang lebih besar bagi sekolah dan daerah untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan kondisi masing-masing.
Keragaman geografis, sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan Indonesia membuat pendekatan pendidikan yang seragam menghadapi tantangan tersendiri.
Forum mengusulkan gagasan otonomi kontekstual, yakni memberikan ruang kepada sekolah dan daerah untuk mengembangkan pembelajaran berdasarkan kebutuhan serta potensi wilayah, dengan tetap mengacu pada tujuan dan standar pendidikan nasional.








