“Pelatihannya bukan sehari dua hari, tetapi lima kali pertemuan, seminggu sekali, menyesuaikan pengamatan tanaman,” jelasnya.
Asep Tristian menambahkan, pembinaan tidak hanya menyasar sekolah negeri. Beberapa sekolah swasta dan SLB juga telah mengembangkan Buruan Saé. Bahkan, ada SLB di kawasan Cinambo yang telah memproduksi minuman dari tanaman rosella hasil kebunnya.
Dukungan Orang Tua dan Komite Sekolah
Terkait hambatan, Asep Ramdani menyebut dukungan orang tua justru sangat besar. Sebelum kegiatan berlangsung, sekolah mensosialisasikan program melalui komite sekolah.
“Ada orang tua yang menawarkan membawa bibit dari rumah. Kami juga meminta orang tua membiarkan anak-anak kotor saat berkegiatan di kebun,” tuturnya.







