Mereka menggarisbawahi analisis Kemlu bahwa dunia tengah memasuki fase “survival mode”, ditandai melemahnya hukum internasional, meningkatnya hard power, dan ketertinggalan institusi global. Situasi ini, menurut narasumber, meningkatkan risiko konflik dan menciptakan “ruang abu-abu” antara perdamaian dan perang.
Diskusi menekankan pergeseran paradigma politik luar negeri Indonesia, yang kini tidak hanya soal positioning, tetapi menjadi instrumen strategis membangun ketahanan nasional.
Diplomasi Indonesia disebut mengacu pada prinsip “foreign policy begins at home” dengan kerangka dynamic-resilience yang antisipatif dan adaptif.
Capain Diplomasi dan Harapan untuk Sinergi yang Lebih Cepat
Para narasumber mengapresiasi capaian diplomasi Indonesia yang berperan sebagai agenda setter, seperti partisipasi dalam OECD dan BRICS, kepemimpinan di Dewan HAM PBB, serta penguatan kemitraan strategis. Ketahanan ekonomi, perlindungan WNI di luar negeri, hingga dukungan pada program Makan Bergizi Gratis juga dibahas sebagai bagian dari diplomasi ketahanan.







